Kamis, 18 Oktober 2012

JEMPUT AKU SAYANG

Seorang cewe yang tinggalnya diluar kota ingin pulang ke-Makassar, ceritanya seperti ini, Pukul 17.15 via telepon : Cewe : sayang…. aku sudah di airport, kamu jemput aku ya..? Cowo : kamu sudah ada di airport..? kok tidak kasih kabar dulu sih, aku lembur, ada kerjaan penting yang harus aku selesaikan, mungkin 2 jam lagi baru selesai Cewe : tidak apa-apa sayang, aku tungguin Cowo : lagian kamu pulang mendadak, tidak kasih tau lagih Cewe : maaf sayang,, kakak lagi diluar kota, mama lagi tidak enak badan, lagi pula pengennya yang pertama kali aku liat itu kamu.. maaf kalau aku nyusahin kamu Cowo : iya tidak apa-apa,, tunggu 2 jam lagi yahh 1 jam kemudian Cewe : halo,, sayang, belum selesai yah kerjaannya ?? Cowo : gimana mau selesai kalo kamunya telepon mulu !!! udah yah tunggu 1 jam lagi, byee Cewe : hallo sayang… yahh sudah ditutup teleponnya Melihat handphonenya terus berdering panggilan dari cewenya, dia pun menonaktifkan handphonenya. Pukul 20.00 setelah pekerjaannya selesai sii cowo pun langsung menuju bandara tanpa mengaktifkan handphonenya terlebih dahulu. Sesampainya dibandara dia mencari cewenya, tapi tidak ditemukan. Lalu dia mengaktifkan handphonenya ada 5 sms yang diabaikannya. Dia menelepon cewenya dan handphonenya pun sudah tidak aktif lagi. “kalau hanya tidak dijemput, kenapa mesti marah sampai mematiakn handphonenya sii !!” gerutunya. Sii cowo pun menuju kerumah cewenya namun tidak ada orang,dia ingin melangkahkan kakinya pergi namun, terhenti ketika ambulance datang. Kakaknya si cewe pun turun dari ambulance tersebut, kemana saja kamu !!! Penjahat itu sudah menusuk adik ku, dia menunggu mu, bukan menunggu kematiiannya ! berkali-kali aku memintanya pulang, tapi dia tetap bersih keras menunggu kamu disana. Kalo gini caranya, siapa yang kehilangan dia, bukan kamu, tapi kita semua. Si cowo pun hanya diam mematung tanpa suara Dibacanya sms dari cewenya.. 18.25 sayang kok hpnya dimatiin 18.30 sayang belum selesai yah kerjaannya 18.40 sayang ada yang perhatiin aku terus 18.45 aku takut, kamu dimana sayang 18.50 ya sudah aku pulang sendiri, sebenarnya aku pulang karna mau ucapin happy anniversary untuk kita, makanya gak mau dijemput siapapun. Makasih yah sayang untuk waktu 2 tahunnya. I love you. maafkan aku sayang. “Jagalah apa yang kamu miliki sekarang, sebelum akhirnya kamu menyesal karena dia telah tiada.”

Kamis, 27 September 2012

Langkah dasar dan set up MIKROTIK


Disini saya akan menjelaskan langkah dasar setup mikrotik yang dikonfigurasikan untuk jaringan sederhana sebagai gateway server. 1. Langkah pertama adalah install Mikrotik RouterOS pada PC atau pasang DOM. 2. Login Pada Mikrotik Routers melalui console : MikroTik v2.9.7 Login: admin Password: (kosongkan) Sampai langkah ini kita sudah bisa masuk pada mesin Mikrotik. User default adalah admin dan tanpa password, tinggal ketik admin kemudian tekan tombol enter. 3. Untuk keamanan ganti password default [admin@Mikrotik] > password old password: ***** new password: ***** retype new password: ***** [admin@ Mikrotik]] > 4. Mengganti nama Mikrotik Router, pada langkah ini nama server akan diganti menjadi “XAVIERO” (nama ini sih bebas2 aja mo diganti) [admin@Mikrotik] > system identity set name=XAVIERO [admin@XAVIERO] > 5. Melihat interface pada Mikrotik Router [admin@XAVIERO] > interface print Flags: X – disabled, D – dynamic, R – running # NAME TYPE RX-RATE TX-RATE MTU 0 R ether1 ether 0 0 1500 1 R ether2 ether 0 0 1500 [admin@XAVIERO] > 6. Memberikan IP address pada interface Mikrotik. Misalkan ether1 akan kita gunakan untuk koneksi ke Internet dengan IP 192.168.0.1 dan ether2 akan kita gunakan untuk network local kita dengan IP 172.16.0.1 [admin@XAVIERO] > ip address add address=192.168.0.1 netmask=255.255.255.0 interface=ether1 [admin@XAVIERO] > ip address add address=172.16.0.1 netmask=255.255.255.0 interface=ether2 7. Melihat konfigurasi IP address yang sudah kita berikan [admin@XAVIERO] >ip address print Flags: X – disabled, I – invalid, D – dynamic # ADDRESS NETWORK BROADCAST INTERFACE 0 192.168.0.1/24 192.168.0.0 192.168.0.63 ether1 1 172.16.0.1/24 172.16.0.0 172.16.0.255 ether2 [admin@XAVIERO] > 8. Memberikan default Gateway, diasumsikan gateway untuk koneksi internet adalah 192.168.0.254 [admin@XAVIERO] > /ip route add gateway=192.168.0.254 9. Melihat Tabel routing pada Mikrotik Routers [admin@XAVIERO] > ip route print Flags: X – disabled, A – active, D – dynamic, C – connect, S – static, r – rip, b – bgp, o – ospf # DST-ADDRESS PREFSRC G GATEWAY DISTANCE INTERFACE 0 ADC 172.16.0.0/24 172.16.0.1 ether2 1 ADC 192.168.0.0/26 192.168.0.1 ether1 2 A S 0.0.0.0/0 r 192.168.0.254 ether1 [admin@XAVIERO] > 10. Tes Ping ke Gateway untuk memastikan konfigurasi sudah benar [admin@XAVIERO] > ping 192.168.0.254 192.168.0.254 64 byte ping: ttl=64 time<1 ms 192.168.0.254 64 byte ping: ttl=64 time<1 ms 2 packets transmitted, 2 packets received, 0% packet loss round-trip min/avg/max = 0/0.0/0 ms [admin@XAVIERO] > 11. Setup DNS pada Mikrotik Routers [admin@XAVIERO] > ip dns set primary-dns=192.168.0.10 allow-remoterequests=no [admin@XAVIERO] > ip dns set secondary-dns=192.168.0.11 allow-remoterequests=no 12. Melihat konfigurasi DNS [admin@XAVIERO] > ip dns print primary-dns: 192.168.0.10 secondary-dns: 192.168.0.11 allow-remote-requests: no cache-size: 2048KiB cache-max-ttl: 1w cache-used: 16KiB [admin@XAVIERO] > 13. Tes untuk akses domain, misalnya dengan ping nama domain [admin@XAVIERO] > ping yahoo.com 216.109.112.135 64 byte ping: ttl=48 time=250 ms 10 packets transmitted, 10 packets received, 0% packet loss round-trip min/avg/max = 571/571.0/571 ms [admin@XAVIERO] > Jika sudah berhasil reply berarti seting DNS sudah benar. 14. Setup Masquerading, Jika Mikrotik akan kita pergunakan sebagai gateway server maka agar client computer pada network dapat terkoneksi ke internet perlu kita masquerading. [admin@XAVIERO]> ip firewall nat add action=masquerade outinterface= ether1 chain:srcnat [admin@XAVIERO] > 15. Melihat konfigurasi Masquerading [admin@XAVIERO]ip firewall nat print Flags: X – disabled, I – invalid, D – dynamic 0 chain=srcnat out-interface=ether1 action=masquerade [admin@XAVIERO] > Setelah langkah ini bisa dilakukan pemeriksaan untuk koneksi dari jaringan local. Dan jika berhasil berarti kita sudah berhasil melakukan instalasi Mikrotik Router sebagai Gateway server. Setelah terkoneksi dengan jaringan Mikrotik dapat dimanage menggunakan WinBox yang bisa di download dari Mikrotik.com atau dari server mikrotik kita. Misal Ip address server mikrotik kita 192.168.0.1, via browser buka http://192.168.0.1 dan download WinBox dari situ. Jika kita menginginkan client mendapatkan IP address secara otomatis maka perlu kita setup dhcp server pada Mikrotik. Berikut langkah-langkahnya : 1.Buat IP address pool /ip pool add name=dhcp-pool ranges=172.16.0.10-172.16.0.20 2. Tambahkan DHCP Network dan gatewaynya yang akan didistribusikan ke client Pada contoh ini networknya adalah 172.16.0.0/24 dan gatewaynya 172.16.0.1 /ip dhcp-server network add address=172.16.0.0/24 gateway=172.16.0.1 3. Tambahkan DHCP Server ( pada contoh ini dhcp diterapkan pada interface ether2 ) /ip dhcp-server add interface=ether2 address-pool=dhcp-pool 4. Lihat status DHCP server [admin@XAVIERO]> ip dhcp-server print Flags: X – disabled, I – invalid # NAME INTERFACE RELAY ADDRESS-POOL LEASE-TIME ADD-ARP 0 X dhcp1 ether2 Tanda X menyatakan bahwa DHCP server belum enable maka perlu dienablekan terlebih dahulu pada langkah 5. 5. Jangan Lupa dibuat enable dulu dhcp servernya /ip dhcp-server enable 0 kemudian cek kembali dhcp-server seperti langkah 4, jika tanda X sudah tidak ada berarti sudah aktif. 6. Tes Dari client c:\>ping www.yahoo.com untuk bandwith controller, bisa dengan sistem simple queue ataupun bisa dengan mangle [admin@XAVIERO] queue simple> add name=Komputer01 interface=ether2 target-address=172.16.0.1/24 max-limit=65536/131072 [admin@XAVIERO] queue simple> add name=Komputer02 interface=ether2 target-address=172.16.0.2/24 max-limit=65536/131072 dan seterusnya…

Selasa, 25 September 2012

SPU Siap Kendalikan Satelit Telkom 3


Ada yang berbeda dari deretan parabola yang ada di Stasiun pengendali Utama (SPU) Cibinong, Kabupaten Bogor ini. Area yang merupakan Satellite Master Control Station milik Telkom ini mempunyai tambahan 2 buah antena parabola yang baru. ”Nanti akan digunakan untuk pengendalian Satelit Telkom 3” demikian dijelaskan Dani Indra Widjanarko, General Manager Satellite Division Telkom. Satelit yang berada di luar angkasa harus tetap dijaga posisinya agar tidak keluar orbit yang sudah ditentukan. Jika keluar, maka satelit tidak berfungsi. Untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, berbagai persiapan telah dilakukan jauh-jauh hari. Persiapan di SPU Cibinong diantaranya menyangkut masalah teknis, mulai dari tempat pengendalian, lahan antena parabola, energi listrik berikut cadangannya. Pasokan listrik ini tidak boleh putus sedetikpun. Selain itu, disiapkan pula 15 tenaga insinyur yang baru direkrut. Mereka – dengan ditambah 15 tenaga insinyur lainnya – mengikuti pelatihan langsung di Rusia selama 2 minggu untuk memahami dan bagaimana mengendalikan Satelit Telkom 3 nantinya, termasuk juga mempelajari bagaimana merawat perangkat pengendalinya. Ketika satelit melayang di luar angkasa, tugas mereka yang ada di SPU Cibinong adalah menjaga agar tidak keluar dari koordinat yang telah ditentukan. Selain itu, dipantau juga ’kesehatan’ satelit. Setiap satelit memancarkan telemetri yang berisikan informasi kondisi baterai, koordinat, solar sel dan sebagainya. Satelit Telkom 3 memiliki teknologi yang lebih canggih karena satelit ini dilengkapi dengan referensi yang tidak hanya tergantung pada matahari. Referensinya juga menggunakan bumi dan bintang. Sementara satelit yang ada sekarang ini referensinya hanya bumi dan matahari. Sebagai penanggungjawab SPU Cibinong, Dani Indra Widjanarko berharap Satelit Telkom 3 akan meluncur dengan sukses karena pasar memang sudah menunggu. Ini juga sebagai jawaban terhadap kebutuhan transponder yang saat ini dicover oleh perusahaan asing. Pemerintah Indonesia tidak bisa menahan karena pihak operator lain akan masuk. Dari tren operator satelit asing di dunia, mereka sudah mengcover Indonesia sebagai pasar utama. Dan sudah saatnya Telkom mengelola bisnis ini lebih fokus. Saatnya Telkom menjadi regional player di bidang satelit, tidak hanya domestic player. Negara-negara tetangga kita sudah memiliki satelit sendiri seperti Singapura dan Malaysia. Padahal dulu mereka belajar dari Indonesia. (Redaksi)

Pembuatan Satelit Telkom-3 dan Rencana Peluncurannya


Peluncuran satelit Telkom-3 tidak ditujukan untuk mengganti satelit yang existing, tetapi bertujuan untuk menambah atau meningkatkan kapasitas transponder existing yang saat ini berjumlah 60 transponder (dengan rincian 36 trasponder dibawa oleh satelit Telkom-1 dan 24 transponder dibawa oleh satelit Telkom-2). Penambahan kapasitas diperlukan karena pertimbangan dan latar belakang antara lain sejak akhir tahun 2006 semua transponder satelit Telkom-1 & Telkom-2 telah habis untuk melayani Telkom Group dan pelanggan lain. Untuk mengakomodasi kebutuhan transponder akibat adanya pertumbuhan pelayanan dari pelanggan transponder, maka Telkom telah menyewa transponder dari beberapa operator asing. Ternyata ketersediaan transponder operator asing sangat terbatas. Berdasarkan data, estimasi demand transponder C-band di Indonesia adalah 200 transponder. Dengan demikian diestimasikan pada tahun 2011 akan terjadi kekurangan supply transponder C-band sebanyak 42 transponder. Satelit Telkom-3 dirancang untuk memiliki 42 transponder aktif atau jika disetarakan dengan transponder yang memiliki bandwidth 36 Mhz, maka Telkom-3 memiliki 49 TPE (Transponder equivalent). Tambahan kapasitas dari satelit Telkom-3 akan menjadikan total transponder yg dimiliki Telkom menjadi 102 transponder aktif, atau 109 transponder equivalen dengan Bandwidth 36 Mhz. Satelit Telkom-3 akan ditempatkan pada slot orbit 118BT setelah satelit Telkom-2 terlebih dahulu dipindahkan posisinya ke 140BT. Satelit Telkom-3 merupakan satelit terbesar yang akan dimiliki Telkom karena jumlah transponder yang dibawa paling banyak.. Design life satelit Telkom-3 sama dengan Telkom-1 dan Telkom-2 yaitu 15 tahun. Proses pengadaan satelit Telkom-3 dilakukan melalui proses tender terbatas internasional melalui pemilihan langsung yang melibatkan 7 vendor/pabrikan satelit yakni Lockheed Martin dari USA, Loral Space System dari USA, Orbital Sciences Corporation dari USA, EADS Astrium dari Perancis, Thales Alenia Space dari Perancis dari Eropa, NPO-PM (ISS- Reshetnev) dari Rusia dan Great Wall China Industry Corporation (CGWIC) dari China. Dalam perjalanannya 3 vendor/pabrikan mengundurkan diri masing masing ; Lockheed Martin dari USA, EADS Astrium dari Perancis- Eropa, dan Great Wall China Industry Corporation (CGWIC) dari China. Setelah melewati proses evaluasi proposal teknis dan administratif maka terdapat dua peserta tender yang lolos sampai dengan tahapan e-auction, yaitu Orbital Sciences Corporation dari USA dan NPO-PM (ISS- Reshetnev) dari Rusia, dan dilanjutkan dengan pelaksanaan e-auction untuk menentukan pemenang. Proses e-auction dilaksanakan pada 18 Desember 2008 dan dimenangkan oleh ISS-Reshetnev. Penandatangan kontrak pengadaan satelit Telkom-3 dengan ISS-Reshetnev dilaksanakan pada 2 Maret 2009 di Jakarta antara Dirut Telkom Rinaldi Firmasnsyah dengan First Deputy General Designer and General Director Mr. Victor Kosenko yang disaksikan oleh Dutabesar RI untuk Rusia bapak Hamid Awaluddin serta Dutabesar Rusia untuk Indonesia Mr. Alexander Ivanov. Kontrak pengadaan satelit Telkom-3 dengan ISS-Reshetnev meliputi pembuatan Satelit Telkom 3, Jasa Peluncuran, Penyediaan Perangkat Pengendali Satelit, training dan internship, dengan mempergunakan skema In Orbit Delivery (IOD). Dengan skema IOD ini maka ISS-Reshetnev bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan segala sesuatu terkait dengan persiapan kendaraan peluncur (launch vehicle) serta dengan satellite co-passenger serta jadwal peluncuran dengan pabrikan kendaraan peluncur. Kendaraan peluncur yang akan dipakai untuk peluncuran adalah proton M Breeze M buatan Khrunichev, serta co-passenger pada saat peluncuran nanti adalah satelit Express-MD2 milik perusahaaan telekomunikasi Rusia RSCC yang juga dibuat Khrunichev. Peluncuran satelit Telkom-3 akan dilakukan bersama-sama dengan satelit Express-MD2 (co-passenger), sehingga dalam peluncuran nanti harus menunggu kesiapan satelit Express-MD2 selain juga kesiapan kendaraan peluncur Proton M- Breeze M. Sampai dengan saat ini kesiapan kendaraan peluncur Proton M Breeze M tidak menemui kendala atau keterlambatan, tetapi tidak demikian haknya dengan satelit Express-MD-2. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari ISS-Reshetnev serta dari pabrikan pembuat satelit Ekspress-MD2, satelit express MD-2 sampai dengan saat ini masih ada keterlambatan dalam penyelesaiannya dan baru dapat dikirim ke Baikonur pada 25 Mei 2012.

Perjalanan Bisnis Satelit Telkom


Telkom telah menjalankan bisnis satelit sejak 1976 sehingga cukup berpengalaman dalam mengoperasikan dan menjalankan bisnis satelit. Jangkauan pelayanan satelit Telkom yang pada awalnya hanya meliputi wilayah nusantara dan Asean, saat ini telah bertambah luas meliputi wilayah India, Hongkong, Guam, Australia Utara dan Papua Nugini. Satelit merupakan salah satu infrastruktur penting Telkom untuk mendukung bisnis Telecommunication, Information, Media dan layanan Edutainment (TIME). Satelit juga sangat penting untuk pemenuhan infrastruktur nasional dalam memberikan layanan TIME ke seluruh daerah di Indonesia. Teknologi satelit dan terestrial merupakan jaringan yang saling melengkapi (komplementer) dimana satelit dijadikan solusi untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur di daerah yang belum terjangkau oleh jaringan teresterial. Secara umum, penggunaan satelit di Telkom meliputi: 1. Menyediakan kapasitas sewa transponder. 2. Sebagai jaringan transmisi backbone, seperti jaringan backbone PSTN (Public Switch Telephone Network), jaringan backbone untuk seluler (cellular backhaul) serta jaringan backhaul DATIN atau data dan Internet. 3. Sebagai jaringan layanan telekomunikasi rural, seperti program Universal Service Obligation (USO). 4. Sebagai jaringan back-up untuk jaringan telekomunikasi nasional. 5. Sebagai jaringan layanan Broadcasting dan layanan TV berbayar 6. Sebagai jaringan layanan VSAT dan multimedia; 7. Menyediakan layanan sewa jaringan (leased lines) 8. Sebagai jaringan teleport Dalam menyediakan layanan satelit ke pelanggan, Telkom mengoptimalkan seluruh anak perusahaan yang bergerak dibidang satelit, anak perusahaan tersebut adalah Metra, PSN, Patrakom, CSM, TelkomVision dan Telkom International (Telin). Gambar 1. TELKOM Satellite Business Vehicle Bisnis sewa transponder Telkom masih tumbuh dari tahun ke tahun. Gambar 2. Pertumbuhan Transponder Telkom Komposisi pengguna satelit Telkom, saat ini masih didominasi oleh TelkomGroup yang terdiri dari anak-anak perusahaan yang bergerak di bisnis satelit. Gambar 3. Komposisi pengguna Satelit TELKOM Secara garis besar, pelanggan eksternal layanan Satelit Telkom terdiri dari : 1. OLO (Other Licenced Operator) seperti para penyedia layanan VSAT (VSAT operator) 2. Militer, seperti Mabes TNI dan Mabes Polri 3. Broadcaster, seperti TVRI, TransGroup, RRI dan lain-lain 4. Instansi Pemerintah, seperti Depdagri dan lain-lain. Pada 2011, market share Telkom bisnis satelit nasional untuk sewa transponder sebesar 37.3%, jauh di atas operator lainnya, yakin Indosat (24,0%), Apstar (10,6%), JCSat (7,6%), AsiaSat (6,9%), GE-23 (6,6%), SinoSat (3,5%), ChinaSat (1,8%), ST-1 (1,1%), Agila (0,4%), dan Measat (0,2%). Sedangkan market share satelit Telkom di kawasan Asia Tenggara masih di bawah Intelsat (17%), tetapi di atas Measat (13%), Thaicom (11%), APT (8%), Mabuhay dan Indosat (5%), Vinasat dan AsiaSat (4%).

Satelit Telkom, dari Palapa A1 Hingga Telkom 2


Hingga tahun 2005, Telkom telah meluncurkan 9 buah satelit yaitu satelit Palapa A1, Palapa A2, Palapa B1, Palapa B2, Palapa B2P, Palapa B2R, Palapa B4, Telkom-1 dan Telkom-2. Dari 9 kali peluncuran satelit tersebut, terdapat 1 kali kegagalan yaitu saat peluncuran satelit Palapa B2, 26 Februari 1984. Satelit yang diluncurkan dengan menggunakan pesawat ulang alik STS-11S, terkatung-katung selama 8 bulan. Pada November 1984 satelit tersebut berhasil ditarik oleh pesawat ulang-alik Discovery dan membawanya kembali ke bumi. Selanjutnya Satelit Palapa B2 menjadi milik perusahaan konsorsium asuransi AS. Tahun 2009 Telkom menandatangani kontrak pembelian satelit Telkom-3 dengan perusahaan Rusia ISS-Reshetnev, satelit Telkom-3 akan menjadi satelit ke 10 yang akan diluncurkan Telkom. Kendaraan peluncur yang akan dipakai adalah Proton M Breeze M dari Baikonur Kosmodrome di Kazakhstan. Peluncuran Satelit Palapa A1 dan A2 Pada 8 Juli 1976 pukul 19.31 waktu Florida Amerika Serikat atau bertepatan dengan 9 Juli 1976 pukul 06.31 WIB merupakan momentum bersejarah bagi Bangsa Indonesia. Saat itu diluncurkan satelit komunikasi milik Bangsa Indonesia yang kemudian diberi nama Palapa A1 dari Cape Canaveral Kennedy Space Centre Florida AS. Roket peluncur yang digunakan adalah Delta 2914 roket buatan McDonnal Douglas dan ditempatkan pada orbit geostationer di posisi 83 derajat BT. Satelit tersebut mulai berfungsi sejak 16 Agustus 1976. Dan peristiwa itu menjadi tonggak penting dimulainya era satelit di Indonesia. Sementara satelit Palapa A-2 diluncurkan pada 10 Maret 1977 waktu Florida Amerika Serikat atau 11 Maret 1977 pukul 06.16 WIB. Roket peluncur yang digunakan adalah Delta 2914 buatan McDonnal Douglas dan ditempatkan pada orbit geostationer di posisi 77 derajat BT. Satelit Palapa A1 dan A2 memiliki 12 transponder aktif yang masing-masing dapat melayani 400 sirkit atau 800 saluran telepon, atau 1 saluran televisi dengan sinyal analog. Satelit Palapa generasi A berbentuk silinder dengan diameter 2,16 meter dan tinggi 2,84 meter, memiliki umur design (design life) selama 7 tahun. Masa akhir operasi (design life) Satelit Palapa A-1 adalah pada tahun 1983, sedangkan Palapa A-2 pada tahun 1984. Peluncuran Satelit Palapa B1, B2P, B2R dan B4 Dari pengalaman di lapangan ditemukan bahwa kapasitas transponder perlu ditingkatkan karena selain untuk keperluan domestik, beberapa negara tetangga berkeinginan menyewa. Maka ditetapkanlah pengadaan satelit generasi Palapa-B yang lebih besar kapasitasnya. Satelit Palapa generasi B memiliki kapasitas transponder 24 transponder aktif serta memiliki umur yang lebih panjang jika dibandingkan dengan Palapa generasi A. Satelit Palapa B1, B2P dan B2R selama 8 tahun, sedangkan Palapa B4 memiliki umur yang lebih panjang lagi yaitu selama 12 tahun. Satelit Palapa B-1 diangkut menuju orbit geostationernya di 108 derajat Bujur Timur pada 17 Juni 1983 (18 Juni 1983 pukul 18.33 WIB), oleh pesawat ulang-alik Columbia STS-7, dalam penerbangan ke tujuh yang merupakan penerbangan komersial ketiga. Palapa B1 adalah satelit jenis HS – 376. Peluncuran Palapa B2 pada 26 Februari 1984 dengan mempergunakan pesawat ulang alik STS-11S mengalami kegagalan karena motor perigeenya tidak berfungsi dengan baik sehingga tidak bisa mencapai orbit geosinkron/geostasioner dan terjebak dalam orbit rendah (parking orbit). Satelit Palapa B2 pada waktu tersebut diasuransikan ke PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) yang oleh Jasindo kemudian direasuransikan ke konsorsium perusahaan asuransi AS. Setelah melalui proses klaim selama kurang lebih enam bulan, klaim asuransi dibayarkan dan dari pembayaran itu Indonesia punya dana untuk memesan satelit pengganti. Setelah dana asuransi tersedia, Perumtel kemudian memesan satelit Palapa B2P ke perusahaan yang sama yaitu Hughes Aircraft company. Huruf “P” di belakang adalah singkatan “Pengganti”, sehingga Palapa B2P bisa diartikan sebagai satelit pengganti Palapa B2. Satelit B2P diluncurkan pada 21 Maret 1987 pada pukul 06.18 WIB dengan roket Delta 6925 dari Cape Canaveral Florida dan kemudian menempati slot orbit 113 derajat BT. Sementara itu setelah terkatung-katung selama 8 bulan, pada November 1984 satelit Palapa B2 berhasil ditarik oleh pesawat ulang-alik Discovery dan membawanya kembali ke bumi. Satelit Palapa B2 tersebut kemudian menjadi milik perusahaan konsorsium asuransi AS. Untuk mempersiapkan satelit pengganti Palapa B1 yang telah berkurang usia operasinya, satelit Palapa B2 dibeli kembali olah Indonesia dan kemudian diberi nama Palapa B2R yang kemudian diluncurkan menggunakan roket Delta II pada tanggal 14 April 1990 dan ditempatkan pada slot orbit 108 derajat Bujur Timur. Huruf “R” di belakang B2 merupakan singkatan “Recovery”. Untuk menggantikan Palapa B1 yang akan habis masa operasinya di 118derajat BT maka Telkom memutuskan untuk membeli satelit Palapa B4, yang kemudian diluncurkan pada 14 Mei 1992 (waktu Indonesia) dari Cape Canaveral Florida AS dengan menggunakan roket Delta 7925. Dalam era Palapa-B ini banyak permintaan sewa transponder dari negara negara tetangga sesam anggota ASEAN untuk menyewa satelit kepada Indonesia. Bahkan 3 tahun sejak peluncuran palapa A, beberapa negara ASEAN sudah menyewa transponder untuk memenuhi kebutuhan telekomunikasi domestiknya masing-masing, diantarnya adalah Filipina, Malaysia, Thailand dll. Di era Palapa B inilah Indonesia mulai merambah manca negara dalam bisnis satelit dan perannya sebagai pengelola jasa satelit kian diperhitungkan oleh masyarakat dunia. Peluncuran Satelit Telkom-1 Satelit Telkom-1 merupakan kelanjutan dari generasi palapa B, karena pengelolaan satelit generasi Palapa C diserahkan ke PT. Satelindo. Hal ini menjadikan Telkom hanya mengoperasikan dua satelit generasi B yakni Palapa B2R dan Palapa B4. Total kapasitas transponder kedua satelit tersebut adalah 48 transponder. Peluncuran satelit Telkom-1 bertujuan untuk menggantikan satelit Palapa B2R yang sudah habis masa operasionalnya, dan ditempatkan pada slot orbit 10b BT. Satelit Telkom-1 memiliki kapasitas yang lebih besar dibandingkan dengan Palapa generasi B yaitu 36 transponder aktif, terdiri dari 24 transponder standard C band dan 12 transponder Ext. C band. Design life satelit Telkom-1 juga lebih lama yaitu sudah mencapai 15 tahun. Proses pengadaan satelit Telkom-1 dilakukan melalui proses tender terbatas internasional yang diikuti oleh Hughes Communication Int., Lockheed Martin, Matra Marconi, Aerosspatiale dan Loral SS. Proses Tender dimenangkan oleh Lockheed Martin dari Amerika Serikat. Penandatanganan kontrak antara Telkom dan Lockheed Martin dilakukan pada 26 Maret 1997, yang meliputi pengadaan satelit Telkom-1 beserta perangkat pengendaliannya yaitu Augmentation of Master Control Station (AMCS), training, internship serta launch support. Untuk kendaraan peluncur Tim Pengadaan Satelit Telkom-1 juga melakukan tender terbatas yang kemudian dimenangkan oleh perusahaan Arianespace asal Perancis untuk menyediakan jasa peluncuran satelit Telkom-1. Penandatanganan dilakukan oleh Dirut Telkom waktu itu, AA Nasution dengan Sales and Marketing Director Arianespace, Phillipe Berterottierre pada 10 Maret 1997. Peluncuran Satelit Telkom-2 Peluncuran satelit Telkom-2 bertujuan untuk menggantikan satelit Palapa B4 yang sudah habis masa operasionalnya, dan ditempatkan pada slot orbit 118 BT. Satelit Telkom-2 memiliki kapasitas yang sama dengan Palapa B4 yaitu 24 transponder aktif yang semuanya merupakan standard C band transponder. Design life satelit Telkom-2 sama dengan Telkom-1 yaitu selama 15 tahun. Proses pengadaan satelit Telkom-2 dilakukan melalui proses tender terbatas internasional yang diikuti oleh Boeing Space System dan Orbital Sciences Corporation keduanya dari USA. Proses Tender dimenangkan oleh Orbital Sciences Corporation. Penandatanganan kontrak antara Telkom dan Orbital Sciences Corporation dilakukan pada 24 Oktober 2002, yang meliputi lingkup pekerjaan sebagai berikut; Satelit (On Ground delivery): dikirim ke launch site 18 bulan terhitung sejak Full Program Start (FPS yaitu 1 Mei 2003), menempatkan satelit pada Orbit 118 BT setelah berhasil diinjeksikan oleh kendaraan peluncur, Pembuatan AMCS (Augmentation of Master Control Station) untuk pengendalian satelit dengan jadual pengiriman ke Cibinong 14 bulan terhitung sejak Full Program Start (FPS), Training Program, diselesaikan paling lambat 17 bulan terhitung sejak FPS, Internship program untuk 7 orang personil Telkom selama satu tahun, On Site Support di SPU Cibinong selama 6 bulan. Untuk kendaraan peluncur Tim Pengadaan Satelit Telkom-2 juga melakukan tender terbatas yang kemudian dimenangkan oleh perusahaan Arianespace asal Perancis untuk menyediakan jasa peluncuran satelit Telkom-2. Penandatanganan dilakukan oleh Dirut Telkom waktu itu, Kristiono dengan Direktir General Arianespace Jean-Yves Le GALL yang dilakukan pada 8 November 2002. Perkembangan Bisnis Satelit Telkom Pada tahun 1993, pemerintah mulai melakukan deregulasi bidang usaha satelit dengan menyetujui serbuah perusahaan swasta yakni PT. Satelindo untuk menjadi operator satelit. PT. Satelindo inilah yang menjadi operator satelit sekaligus juga operator seluler sesuai ijin yang diberikan pemerintah kepadanya. Satelit palapa B2P dan para pelanggannya kemudian diserahkan Telkom kepada perusahaan yang baru tersebut. Setelah tahun 1993, Telkom masih mengoperasikan 2 buah satelit, Palapa B2P dan Palapa B4 dan tetap terus memasarkan usaha satelitnya. Namun demikian, pada periode tersebut negara-negara yang tadinya tidak memiliki satelit, mulai membangun satelit nasionalnya masing-masing. Thailand memiliki Thaicom, malaysia memiliki Measat serta Hongkong dengan Asiasat. Kondisi demikian berdampak pada angka penyewaan satelit untuk luar negeri dari 55% pada tahun 1992 menjadi hanya 35% pada tahun 1995. Namun hal ini tidak berarti bahwa bisnis atelit tak lagi sebaik tahun-tahun sebelumnya. Karena faktanya penurunan sewa satelit oleh luar negeri tersebut diimbangi dengan meningkatnya permintaan jasa penyeawaan satelit di dalam negeri. Untuk menanggapi permintaan tersebut, Telkom berupaya mengubah starteginya dengan cara membuat segmentasi pelanggannya. ***redaksi