Selasa, 13 Maret 2012

Tentang Jilbab kaum Hawa




SURAT TERBUKA UNTUK WANITA YANG BEKERJA BERSAMA LAKI-LAKI
﴿ رسالة إلى فتاة تعمل بين الرجال
] Indonesia – Indonesian – [ إندونيسي








Penyusun : Div. Ilmiyah www.saaid.net





Terjemah : Muh. Iqbal Ahmad Gazali
Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad





2009 - 1430





﴿ رسالة إلى فتاة تعمل بين الرجال
« باللغة الإندونيسية »







تأليف : موقع صيد الفوائد




ترجمة: محمد إقبال أحمد غزالى
مراجعة: إيكو هاريانتو أبو زياد






2009 – 1430
SURAT TERBUKA UNTUK WANITA YANG BEKERJA BERSAMA LAKI-LAKI
Saudariku yang mulia:
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Sungguh saat melihatmu berada di tempat ini saya benar-benar merasa sakit, kamu bekerja di tengah laki-laki, dan yang menyebabkan saya merasa sakit bahwa ikhtilath (bergabung laki-laki dan wanita) ini sangat berbahaya bagimu, agama dan akhlakmu…
Janganlah engkau segera berpaling dari nasehatku, dan mengira bahwa saya terlali berlebihan dalam merasa sakit. Maka sesungguhnya bersamaku ada dalil-dalil yang merupakan penjelasan memuaskan bagi ucapan saya. Ingatlah, sesungguhnya tidak ada ikatan yang mengikat aku denganmu selain ikatan Islam. Saya tidak memperoleh apapun dari keuntungan duniawi dari kata-kata yang saya goreskan kepadamu dengan huruf-huruf yang keluar dari hati saya, bahkan sesungguhnya ia menghabiskan waktu dan energi serta pikiran saya. Saya berharap anda bisa menghargai pendirian saya terhadapmu. Renungkanlah apa saja yang saya ucapkan beberapa kali, dan anda akan mendapatkan di dalamnya sebuah nasehat yang tulus untukmu.
Saudariku yang mulia…
Sesungguhnya wanita terzalimi dalam ikhtilathnya dengan laki-laki tanpa disertai mahramnya, karena sesungguhnya umunya pandangan laki-laki kepadanya tidak terlepas dari pandangan syahwat, dan siapa yang mengira tidak demikian maka dia tidak berkata jujur. Allah menciptakan pada diri laki-laki kecenderungan yang kuat kepada wanita dan menciptakan pada diri wanita kecenderungan kuat kepada laki-laki disertai kelembutan dan kelemahan. Dari sana, maka kedekatan di antara keduanya di luar batas yang disyari'atkan, ia sangat berbahaya. Syetan menggoyangkan tabiat dalam kondisi ini. Dan biasanya yang menanggung kerugian dalam masalah ini adalah wanita, karena laki-laki tidak memikul dampak negatif problem ini sebagaimana wanita. Ikhtilath terkadang bisa membawa kepada tersobeknya kehormatan dan dampak negatifnya seperti hamil, karena inilah syari'at mengharamkannya, dan dalil-dalil dalam masalah ini sangat banyak, saya akan menyebutkan sebagian darinya:
Firman Allah :
قل للمؤمنين يغضوا من أبصارهم ويحفظوا فروجهم ذلك أزكى لهم إن الله خبير بما يصنعون
Katakanlah kepada laki-laki yang beriman:"Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". (QS. an-Nuur:30)
Allah menyuruh laki-laki menahan pandangannya dari wanita, maka apabila wanita bekerja di samping laki-laki, bagaimana mungkin ia bisa menahan pandangannya?
Semua tubuh wanita adalah aurat, sebagaimana yang disebutkan dalam atsar maka tidak boleh memandang kepadanya. dan Rasulullah bersabda:
يا علي.. لاتتبع النظرة النظرة، فإنما لك الأولى، وليست لك الآخرة
"Wahai Ali, janganlah engkau meneruskan pandangan pertama kepada pandangan kedua, maka sesungguhnya bagimu yang pertama dan bukan untukmu yang kedua." HR. at-Tirmidzi.
Maka pandangan kebentulah (tidak disengaja) dimaafkan, yaitu pandangan pertama. Berbeda dengan yang kedua, maka sesungguhnya ia diharamkan, karena dilakukan dengan kesengajaan. Disebutkan dalam atsar:
العينان زناهما النظر، والأذنان زناهما الاستماع، واللسان زناه الكلام، واليد زناها البطش، والرِجل زناها الخطو
"Zinah kedua mata adalah memandang, zinah kedua telinga adalah mendengar, zinah lisan adalah berkata, zinah tangan adalah melangkah, dan zinah kaki adalah melangkah." HR. Muslim.
Memandang adalah zinah karena ia menikmati pandangan kepada keindahan wanita dan hal itu membawa kepada bergantungnya hati dengannya, dan dari sana terjadilah perbuatan keji. Dan tidak diragukan lagi bahwa memandang sangat terjadi dalam bergabung dua lawan jenis.
Rasulullah bersabda:
مَا تَرَكُتُ بَعْدِي فِتْنَةًٌ هِيَ أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
"Aku tidak meninggalkan satu fitnah sesudahku yang lebih berbahaya bagi laki-laki selain dari wanita." (HR. al-Bukhari).
Beliau menggambarkan wanita sebagai fitnah bagi laki-laki, maka bagaimanakah digabungkan di antara yang menfitnah (wanita) dan yang terfitnah (laki-laki) berada dalam satu tempat.
Sesungguhnya tatkala Rasulullah membangun masjid, beliau menjadikan pintu khusus untuk wanita dan bersabda: 'Jikalau kita membiarkan pintu ini untuk wanita." HR. Abu Daud. Maka Umar melarang masuk dari pintu wanita. Maka apabila ada larangan bercampur dalam pintu maka hal dilarang dalam kantor tentu lebih utama.
Dan Rasulullah menyuruh wanita agar berjalan di tepi jalan, jangan di tengahnya hingga tidak bercampur dengan laki-laki. Dan Rasulullah apabila mengucap salam dari shalatnya, beliau tetap berada di tempatnya menghadap kiblat dan jamaah laki-laki yang bersamanya hingga para wanita berpaling dan masuk ke rumah mereka, kemudian beliau berpaling (pulang) dan berpaling orang-orang yang bersamanya, sehingga pandangan laki-laki tidak tertuju kepada mereka.
Semua nash ini dan dalil-dalil lainnya menjelaskan haramnya ikhtilath dan haram wanita bekerja di samping laki-laki, dan semua ulama sepakat atas hal ini, tanpa ada perbedaan pendapat.
Sesungguhnya wanita disuruh agar selalu berada di dalam rumah, apakah kamu mengetahui hal itu?...sehingga ia menjadi sasaran pandangan laki-laki dan ikhtilath dengan mereka…
Sudah diketahui bahwa terkoyaknya kehormatan, hancurnya rumah tangga, dan hilangnya masa depan remaja putri secara khusus adalah akibah dari ikhtilath…
Dan jika engkau ingin mengetahui hakikat ikhtilath dan pengaruhnya maka bacalah problem ikhtilath di Barat, sehingga mulai ada ajakan untuk meninggalkan ikhtilath dalam belajar. Maka didirikannya beberapa universitas dan sekolah yang berdiri di atas pemisahan di antara dua lawan jenis di Amerika dan yang lainnya. Mereka tidaklah melakukan hal itu kecuali setelah merasakan pahit dan pedihnya karena banyaknya kerusakan akhlak. Bukankah kita harus mengambil pelajaran dari realita ini?...
Bukan suatu kesalahan besar bahwa kita –kaum muslimin- mengulangi kesalahan yang telah terjadi di Barat, sedangkan mereka sekarang mengharapkan bisa berlepas diri darinya.
Wahai saudari…!
Engkau adalah yang paling berharga di sisi kami, engkau adalah saudari, putri, istri dan ibu…sudah menjadi keharusan bahwa engkau menjadi pembantu bagi kami untuk menjagamu dari bahaya…
Engkau adalah separo masyarakat dan engkau melahirkan yang lain. Engkaulah yang kami harapkan bisa mengeluarkan generasi yang membimbing umat…Namun bagaimana mungkin hal itu terjadi bagimu apabila engkau pergi berlari meninggalkan rumah, meninggalkan tugas rumah, mendidik generasi baru dan tugas keibuan, dan jadilah engkau bersama laki-laki dalam bekerja?
Ketahuilah –semoga Allah memberi rahmat kepadamu-, bahwa Allah tidaklah menyuruhmu berdiam diri di dalam rumah kecuali karena sayang kepadamu:
وقرن في بيوتكن ولا تبرجن تبرج الجاهلية الأولى
dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu. (QS. al-Ahzab:33)
karena apabila engkau keluar niscaya laki-laki sangat bernafsu terhadapmu, dan jika engkau ingin memastikan apa yang saya katakan maka bacalah kitab yang berjudul: amalul mar`ti fil mizaan" (Pekerjaan wanita dalam timbangan) karya DR. Muhammad Ali al-Baar..dan engkau akan menemukan di dalamnya kebenaran yang nyata dengan nomor dan cerita yang memastikan bahaya wanita meninggalkan rumahnya dan bercampurnya bersama laki-laki. Ambillah pelajaran kondisi wanita di Barat: sesungguhnya ia mengeluh perbuatan zalim dari laki-laki, ia mengadukan tindakan pelecehan sex di setiap tempat. Ia tidak bisa berlari dari realita, karena ia harus bekerja dan jika tidak ia akan mati kelaparan. Maka ia berada dalam penderitaan yang tidak berkesudahan..
adapun engkau, sungguh Allah telah memberikanmu kemuliaan dengan Islam yang mewajibkan kepada bapak, suami, saudara, dan anak agar berusaha untuk memberikan nafkah untukmu, dan Allah tidak pernah menyuruhmu bekerja. Ini adalah harta ghanimah yang datang kepadamu tanpa susah payah mendapatkannya. Engkau menetap di dalam rumah seperti ratu, selain engkau bekerja untukmu. Bukanlah ini merupakan nikmat yang besar.
Maka janganlah engkau terperdaya dengan dunia dan hiasan syetan untuknya agar keluar bekerja. Maka jika engkau ingin dekat dengan ar-Rahman maka menetaplah di dalam rumah. Rasulullah bersabda:
المرأة عورة، فإذا خرجت استشرفها الشيطان، وأقرب ما تكون من وجه ربها وهي في قعر بيتها
"Perempuan adalah aurat, maka apabila ia keluar niscaya syetan memuliakannya, dan yang paling dekat dari Wajah Rabb-nya saat dia berada di dalam rumahnya." HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban.
Dan ketahuilah wahai saudariku, sesungguhnya yang paling berharga pada dirimu adalah iman dan iffahmu, dan ia terancam akan terkoyak apabila engkau ikhtilath dengan laki-laki. Maka berjauhlah dari mereka dan jangan engkau mendekatkan diri dari mereka kecuali mahram atau suami. Dan ketahuilah, sesungguhnya engkau berada di bawah naungan hijab dan menetap di dalam rumah niscaya engkau mendapatkan suami yang terbaik akhlak dan ghirah. Dan apabila engkau tetap dalam pekerjaan yang ikhtilath ini niscaya engkau tidak akan mendapatkan laki-laki yang baik.
Wahai Saudari! Jangan engkau mengatakan 'Saya bisa menjaga diri, sekalipun berada di antara laki-laki…' Maka sesungguhnya Allah tidak menyuruh menundukkan pandangan dan berpisah di antara laki-laki dan wanita kecuali Dia mengetahui bahwa dorongan sex adalah kekuatan yang menghanyutkan. Seorang muslim disuruh menjauhkan diri dari tempat-tempat fitnah dan ia tidak menjerumuskan dirinya kepada kebinasaan. Apabila seorang manusia kelaparan, ia tidak mampu menahan diri dari makanan, demikian pula apabila ia kelaparan secara sex. Dalam kondisi bagaimanapun, apabila sudah jelas haramnya ikhtilath, maka sesungguhnya haram bagi wanita dan laki-laki bekerja berdampingan, sekalipun keduanya menjaga diri. Dan tidak menjadi ukuran dengan tidak adanya nafsu syahwat atau kemampuan wanita menjaga dirinya...dan jika engkau –wahai saudari yang mulia- membutuhkan pekerjaan maka hendaklah pekerjaan itu jauh dari laki-laki.
Saudari yang mulia..saya tidak tahu, apakah kata-kata saya sampai ke sudut hatimu? Dan apakah ia bisa menembuh selaput luar jantungnya? Saya mengharapkan hal itu dari hatiku. Dan aku berdoa kepada Allah dengan doa yang sangat agar Dia menjagamu dari tipu daya orang-orang yang menipu, orang-orang yang merencakan untuk melemparmu ke dalam lumpur kehinaan. Dan mereka sangat senang saat bisa mewujudkan hal itu darimu, saat engkau meninggalkan rumah dan berada di tengah-tengah laki-laki. Karena mereka mengetahui bahwa engkau adalah pendidik generasi mendatang. Maka apabila engkau sudah rusak niscaya rusaklah generasi penerus, dan umat menjadi mangsa bagi musuh-musuhnya.
Saya berharap kamu bisa memahani persoalan penting ini dengan sebenarnya dan memahami kadar bahaya yang engkau berada di dalamnya. Dan apabila engkau tidak menerima ucapan saya –dan saya tidak mengira hal itu darimu- maka saya akan berdoa malam dan siang hari, dan saya tidak akan pernah bosan berdoa untukmu. Engkau adalah saudariku dalam kondisi apapun. Percayalah bahwa suatu hari nanti engkau akan kembali kepada petunjukmu, dan percayalah bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan percuma usahaku bersamamu. Dan tidak adalah taufiqku kecuali dengan pertolongan Allah . Dan saya sangat berharap agar engkau mengulang kembali membaca nasehat ini beberapa kali, dari waktu hingga waktu yang lain.
Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Nasehat Kaum Wanita



SURAT TERBUKA UNTUK WANITA YANG BEKERJA BERSAMA LAKI-LAKI
﴿ رسالة إلى فتاة تعمل بين الرجال
] Indonesia – Indonesian – [ إندونيسي








Penyusun : Div. Ilmiyah www.saaid.net





Terjemah : Muh. Iqbal Ahmad Gazali
Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad





2009 - 1430





﴿ رسالة إلى فتاة تعمل بين الرجال
« باللغة الإندونيسية »







تأليف : موقع صيد الفوائد




ترجمة: محمد إقبال أحمد غزالى
مراجعة: إيكو هاريانتو أبو زياد






2009 – 1430
SURAT TERBUKA UNTUK WANITA YANG BEKERJA BERSAMA LAKI-LAKI
Saudariku yang mulia:
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Sungguh saat melihatmu berada di tempat ini saya benar-benar merasa sakit, kamu bekerja di tengah laki-laki, dan yang menyebabkan saya merasa sakit bahwa ikhtilath (bergabung laki-laki dan wanita) ini sangat berbahaya bagimu, agama dan akhlakmu…
Janganlah engkau segera berpaling dari nasehatku, dan mengira bahwa saya terlali berlebihan dalam merasa sakit. Maka sesungguhnya bersamaku ada dalil-dalil yang merupakan penjelasan memuaskan bagi ucapan saya. Ingatlah, sesungguhnya tidak ada ikatan yang mengikat aku denganmu selain ikatan Islam. Saya tidak memperoleh apapun dari keuntungan duniawi dari kata-kata yang saya goreskan kepadamu dengan huruf-huruf yang keluar dari hati saya, bahkan sesungguhnya ia menghabiskan waktu dan energi serta pikiran saya. Saya berharap anda bisa menghargai pendirian saya terhadapmu. Renungkanlah apa saja yang saya ucapkan beberapa kali, dan anda akan mendapatkan di dalamnya sebuah nasehat yang tulus untukmu.
Saudariku yang mulia…
Sesungguhnya wanita terzalimi dalam ikhtilathnya dengan laki-laki tanpa disertai mahramnya, karena sesungguhnya umunya pandangan laki-laki kepadanya tidak terlepas dari pandangan syahwat, dan siapa yang mengira tidak demikian maka dia tidak berkata jujur. Allah menciptakan pada diri laki-laki kecenderungan yang kuat kepada wanita dan menciptakan pada diri wanita kecenderungan kuat kepada laki-laki disertai kelembutan dan kelemahan. Dari sana, maka kedekatan di antara keduanya di luar batas yang disyari'atkan, ia sangat berbahaya. Syetan menggoyangkan tabiat dalam kondisi ini. Dan biasanya yang menanggung kerugian dalam masalah ini adalah wanita, karena laki-laki tidak memikul dampak negatif problem ini sebagaimana wanita. Ikhtilath terkadang bisa membawa kepada tersobeknya kehormatan dan dampak negatifnya seperti hamil, karena inilah syari'at mengharamkannya, dan dalil-dalil dalam masalah ini sangat banyak, saya akan menyebutkan sebagian darinya:
Firman Allah :
قل للمؤمنين يغضوا من أبصارهم ويحفظوا فروجهم ذلك أزكى لهم إن الله خبير بما يصنعون
Katakanlah kepada laki-laki yang beriman:"Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". (QS. an-Nuur:30)
Allah menyuruh laki-laki menahan pandangannya dari wanita, maka apabila wanita bekerja di samping laki-laki, bagaimana mungkin ia bisa menahan pandangannya?
Semua tubuh wanita adalah aurat, sebagaimana yang disebutkan dalam atsar maka tidak boleh memandang kepadanya. dan Rasulullah bersabda:
يا علي.. لاتتبع النظرة النظرة، فإنما لك الأولى، وليست لك الآخرة
"Wahai Ali, janganlah engkau meneruskan pandangan pertama kepada pandangan kedua, maka sesungguhnya bagimu yang pertama dan bukan untukmu yang kedua." HR. at-Tirmidzi.
Maka pandangan kebentulah (tidak disengaja) dimaafkan, yaitu pandangan pertama. Berbeda dengan yang kedua, maka sesungguhnya ia diharamkan, karena dilakukan dengan kesengajaan. Disebutkan dalam atsar:
العينان زناهما النظر، والأذنان زناهما الاستماع، واللسان زناه الكلام، واليد زناها البطش، والرِجل زناها الخطو
"Zinah kedua mata adalah memandang, zinah kedua telinga adalah mendengar, zinah lisan adalah berkata, zinah tangan adalah melangkah, dan zinah kaki adalah melangkah." HR. Muslim.
Memandang adalah zinah karena ia menikmati pandangan kepada keindahan wanita dan hal itu membawa kepada bergantungnya hati dengannya, dan dari sana terjadilah perbuatan keji. Dan tidak diragukan lagi bahwa memandang sangat terjadi dalam bergabung dua lawan jenis.
Rasulullah bersabda:
مَا تَرَكُتُ بَعْدِي فِتْنَةًٌ هِيَ أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
"Aku tidak meninggalkan satu fitnah sesudahku yang lebih berbahaya bagi laki-laki selain dari wanita." (HR. al-Bukhari).
Beliau menggambarkan wanita sebagai fitnah bagi laki-laki, maka bagaimanakah digabungkan di antara yang menfitnah (wanita) dan yang terfitnah (laki-laki) berada dalam satu tempat.
Sesungguhnya tatkala Rasulullah membangun masjid, beliau menjadikan pintu khusus untuk wanita dan bersabda: 'Jikalau kita membiarkan pintu ini untuk wanita." HR. Abu Daud. Maka Umar melarang masuk dari pintu wanita. Maka apabila ada larangan bercampur dalam pintu maka hal dilarang dalam kantor tentu lebih utama.
Dan Rasulullah menyuruh wanita agar berjalan di tepi jalan, jangan di tengahnya hingga tidak bercampur dengan laki-laki. Dan Rasulullah apabila mengucap salam dari shalatnya, beliau tetap berada di tempatnya menghadap kiblat dan jamaah laki-laki yang bersamanya hingga para wanita berpaling dan masuk ke rumah mereka, kemudian beliau berpaling (pulang) dan berpaling orang-orang yang bersamanya, sehingga pandangan laki-laki tidak tertuju kepada mereka.
Semua nash ini dan dalil-dalil lainnya menjelaskan haramnya ikhtilath dan haram wanita bekerja di samping laki-laki, dan semua ulama sepakat atas hal ini, tanpa ada perbedaan pendapat.
Sesungguhnya wanita disuruh agar selalu berada di dalam rumah, apakah kamu mengetahui hal itu?...sehingga ia menjadi sasaran pandangan laki-laki dan ikhtilath dengan mereka…
Sudah diketahui bahwa terkoyaknya kehormatan, hancurnya rumah tangga, dan hilangnya masa depan remaja putri secara khusus adalah akibah dari ikhtilath…
Dan jika engkau ingin mengetahui hakikat ikhtilath dan pengaruhnya maka bacalah problem ikhtilath di Barat, sehingga mulai ada ajakan untuk meninggalkan ikhtilath dalam belajar. Maka didirikannya beberapa universitas dan sekolah yang berdiri di atas pemisahan di antara dua lawan jenis di Amerika dan yang lainnya. Mereka tidaklah melakukan hal itu kecuali setelah merasakan pahit dan pedihnya karena banyaknya kerusakan akhlak. Bukankah kita harus mengambil pelajaran dari realita ini?...
Bukan suatu kesalahan besar bahwa kita –kaum muslimin- mengulangi kesalahan yang telah terjadi di Barat, sedangkan mereka sekarang mengharapkan bisa berlepas diri darinya.
Wahai saudari…!
Engkau adalah yang paling berharga di sisi kami, engkau adalah saudari, putri, istri dan ibu…sudah menjadi keharusan bahwa engkau menjadi pembantu bagi kami untuk menjagamu dari bahaya…
Engkau adalah separo masyarakat dan engkau melahirkan yang lain. Engkaulah yang kami harapkan bisa mengeluarkan generasi yang membimbing umat…Namun bagaimana mungkin hal itu terjadi bagimu apabila engkau pergi berlari meninggalkan rumah, meninggalkan tugas rumah, mendidik generasi baru dan tugas keibuan, dan jadilah engkau bersama laki-laki dalam bekerja?
Ketahuilah –semoga Allah memberi rahmat kepadamu-, bahwa Allah tidaklah menyuruhmu berdiam diri di dalam rumah kecuali karena sayang kepadamu:
وقرن في بيوتكن ولا تبرجن تبرج الجاهلية الأولى
dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu. (QS. al-Ahzab:33)
karena apabila engkau keluar niscaya laki-laki sangat bernafsu terhadapmu, dan jika engkau ingin memastikan apa yang saya katakan maka bacalah kitab yang berjudul: amalul mar`ti fil mizaan" (Pekerjaan wanita dalam timbangan) karya DR. Muhammad Ali al-Baar..dan engkau akan menemukan di dalamnya kebenaran yang nyata dengan nomor dan cerita yang memastikan bahaya wanita meninggalkan rumahnya dan bercampurnya bersama laki-laki. Ambillah pelajaran kondisi wanita di Barat: sesungguhnya ia mengeluh perbuatan zalim dari laki-laki, ia mengadukan tindakan pelecehan sex di setiap tempat. Ia tidak bisa berlari dari realita, karena ia harus bekerja dan jika tidak ia akan mati kelaparan. Maka ia berada dalam penderitaan yang tidak berkesudahan..
adapun engkau, sungguh Allah telah memberikanmu kemuliaan dengan Islam yang mewajibkan kepada bapak, suami, saudara, dan anak agar berusaha untuk memberikan nafkah untukmu, dan Allah tidak pernah menyuruhmu bekerja. Ini adalah harta ghanimah yang datang kepadamu tanpa susah payah mendapatkannya. Engkau menetap di dalam rumah seperti ratu, selain engkau bekerja untukmu. Bukanlah ini merupakan nikmat yang besar.
Maka janganlah engkau terperdaya dengan dunia dan hiasan syetan untuknya agar keluar bekerja. Maka jika engkau ingin dekat dengan ar-Rahman maka menetaplah di dalam rumah. Rasulullah bersabda:
المرأة عورة، فإذا خرجت استشرفها الشيطان، وأقرب ما تكون من وجه ربها وهي في قعر بيتها
"Perempuan adalah aurat, maka apabila ia keluar niscaya syetan memuliakannya, dan yang paling dekat dari Wajah Rabb-nya saat dia berada di dalam rumahnya." HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban.
Dan ketahuilah wahai saudariku, sesungguhnya yang paling berharga pada dirimu adalah iman dan iffahmu, dan ia terancam akan terkoyak apabila engkau ikhtilath dengan laki-laki. Maka berjauhlah dari mereka dan jangan engkau mendekatkan diri dari mereka kecuali mahram atau suami. Dan ketahuilah, sesungguhnya engkau berada di bawah naungan hijab dan menetap di dalam rumah niscaya engkau mendapatkan suami yang terbaik akhlak dan ghirah. Dan apabila engkau tetap dalam pekerjaan yang ikhtilath ini niscaya engkau tidak akan mendapatkan laki-laki yang baik.
Wahai Saudari! Jangan engkau mengatakan 'Saya bisa menjaga diri, sekalipun berada di antara laki-laki…' Maka sesungguhnya Allah tidak menyuruh menundukkan pandangan dan berpisah di antara laki-laki dan wanita kecuali Dia mengetahui bahwa dorongan sex adalah kekuatan yang menghanyutkan. Seorang muslim disuruh menjauhkan diri dari tempat-tempat fitnah dan ia tidak menjerumuskan dirinya kepada kebinasaan. Apabila seorang manusia kelaparan, ia tidak mampu menahan diri dari makanan, demikian pula apabila ia kelaparan secara sex. Dalam kondisi bagaimanapun, apabila sudah jelas haramnya ikhtilath, maka sesungguhnya haram bagi wanita dan laki-laki bekerja berdampingan, sekalipun keduanya menjaga diri. Dan tidak menjadi ukuran dengan tidak adanya nafsu syahwat atau kemampuan wanita menjaga dirinya...dan jika engkau –wahai saudari yang mulia- membutuhkan pekerjaan maka hendaklah pekerjaan itu jauh dari laki-laki.
Saudari yang mulia..saya tidak tahu, apakah kata-kata saya sampai ke sudut hatimu? Dan apakah ia bisa menembuh selaput luar jantungnya? Saya mengharapkan hal itu dari hatiku. Dan aku berdoa kepada Allah dengan doa yang sangat agar Dia menjagamu dari tipu daya orang-orang yang menipu, orang-orang yang merencakan untuk melemparmu ke dalam lumpur kehinaan. Dan mereka sangat senang saat bisa mewujudkan hal itu darimu, saat engkau meninggalkan rumah dan berada di tengah-tengah laki-laki. Karena mereka mengetahui bahwa engkau adalah pendidik generasi mendatang. Maka apabila engkau sudah rusak niscaya rusaklah generasi penerus, dan umat menjadi mangsa bagi musuh-musuhnya.
Saya berharap kamu bisa memahani persoalan penting ini dengan sebenarnya dan memahami kadar bahaya yang engkau berada di dalamnya. Dan apabila engkau tidak menerima ucapan saya –dan saya tidak mengira hal itu darimu- maka saya akan berdoa malam dan siang hari, dan saya tidak akan pernah bosan berdoa untukmu. Engkau adalah saudariku dalam kondisi apapun. Percayalah bahwa suatu hari nanti engkau akan kembali kepada petunjukmu, dan percayalah bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan percuma usahaku bersamamu. Dan tidak adalah taufiqku kecuali dengan pertolongan Allah . Dan saya sangat berharap agar engkau mengulang kembali membaca nasehat ini beberapa kali, dari waktu hingga waktu yang lain.
Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Mengenal Islam




MENGENAL ISLAM
تعريف موجز بالإسلام
(باللغة الإندونيسية)
Introduction to Islam in Indonisian Language

Disusun Oleh:
Penerbit Darul Qosim


Penerjemah :
Divisi Indonesia
Murajaah :
Zulfi Askar


إعداد:
القسم العلمي بدار القاسم
ترجمة:
صلاح الدين عبد الرحمن
مراجعة:
زلفي عسكر








Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah
المكتب التعاوني للدعوة وتوعية الجاليات بالربوة بمدينة الرياض
1428 – 2007


Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga shalawat dan salam tercurah untuk imam para rasul, nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para shahabatnya .
Islam adalah syari’at Allah terakhir yang diturunkan-Nya kepada penutup para nabi dan rasul-Nya, Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia merupakan satu-satunya agama yang benar. Allah tidak menerima agama dari siapapun selainnya. Dia telah menjadikannya sebagai agama yang mudah, tidak ada kesulitan dan kesusahan di dalamnya. Allah tidak mewajibkan dan tidak pula membebankan kepada para pemeluknya apa-apa yang mereka tidak sanggup melakukannya. Islam adalah agama yang dasarnya tauhid, syi’arnya kejujuran, porosnya keadilan, tiangnya kebenaran, ruhnya kasih sayang. Ia merupakan agama agung yang mengarahkan manusia kepada seluruh hal yang bermanfa’at, serta melarang dari segala hal yang membahayakan bagi agama dan kehidupan mereka di dunia.
Dengannya Allah meluruskan ’aqidah dan akhlak, serta memperbaiki kehidupan dunia dan akhirat. Dengannya pula Allah menyatukan hati yang bercerai-berai, dan hawa nafsu yang berpecah-belah, dengan membebaskannya dari kegelapan kebatilan, dan mengarahkan serta menunjukinya kepada kebenaran dan jalan yang lurus. Islam adalah agama yang lurus, yang sangat bijaksana dan sempurna dalam segala berita dan hukum-hukumnya. Ia tidak memberitakan kecuali dengan jujur dan benar, dan tidak menghukum kecuali dengan yang baik dan adil, yaitu: ’aqidah yang benar, amalan yang tepat, akhlak yang utama dan etika yang mulia.
Syari’ah Islam bertujuan untuk mewujudkan hal-hal berikut:
  1. Memperkenalkan manusia dengan Tuhan dan Pencipta mereka, melalui nama-nama-Nya yang mulia dan sifat-sifat-Nya yang agung, serta perbuatan-perbuatan-Nya yang sempurna.
  2. Menyeru manusia untuk beribadah hanya kepada Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya; dengan menjalankan semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya, yang merupakan kemaslahatan bagi mereka di dunia dan akhirat.
  3. Mengingatkan mereka akan keadaan dan tempat kembali mereka setelah mati, dan apa yang akan mereka hadapi di dalam kubur, serta ketika dibangkitkan dan dihisab. Kemudian tempat kembali mereka surga atau neraka.
Dan hal-hal yang diseru oleh Islam dapat kita simpulkan dalam penjelasan berikut:


Pertama
Aqidah


Yaitu: Meyakini Rukun-Rukun (Pilar-Pilar) Iman yang enam:
  1. Beriman kepada Allah, diwujudkan dengan hal-hal berikut:
    1. Satu: Beriman kepada rububiyyah Allah Ta’ala, maksudnya: Allah adalah Tuhan, Pencipta, Pemilik dan Pengatur segala urusan.
    2. Beriman kepada uluhiyyah Allah Ta’ala, maksudnya: Allah Ta’ala sajalah Tuhan yang berhak disembah, dan semua sesembahan selain-Nya adalah batil.
    3. Beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat-Nya, maksudnya: bahwasanya Allah Ta’ala memiliki nama-nama yang mulia, dan sifat-sifat yang sempurna serta agung sesuai dengan yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam .
2- Beriman kepada para Malaikat:
Malaikat adalah hamba-hamba yang mulia. Mereka diciptakan oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya, serta tunduk dan patuh menta’ati-Nya. Allah telah membebankan kepada mereka berbagai tugas. Diantara mereka adalah Jibril; ditugaskan menurunkan wahyu dari sisi Allah kepada nabi-nabi dan rasul-rasul yang dikehendaki-Nya.
Mikail yang ditugaskan untuk mengurus hujan dan tumbuh-tumbuhan.
Israfil yang bertugas meniupkan sangsakala di hari terjadinya kiamat.
Dan Malaikat Maut, bertugas mencabut nyawa ketika ajal tiba.
3- Beriman kepada Kitab-kitab:
Allah -Yang Maha Agung dan Mulia- telah menurunkan kepada para rasul-Nya kitab-kitab, mengandung petunjuk dan kebaikan. Yang kita ketahui di antara kitab-kitab itu adalah:
  1. Taurat, diturunkan Allah kepada Nabi Musa alaihis salam, ia merupakan kitab Bani Israil yang paling agung.
  2. Injil, diturunkan Allah kepada Nabi Isa alaihis salam.
  3. Zabur, diturunkan Allah kepada Daud alaihis salam.
  4. Shuhuf Nabi Ibrahim dan Nabi Musa ’alaihimas salam.
  5. Al Qur’an yang agung, diturunkan Allah Ta’ala kepada nabi-Nya Muhammad, penutup para nabi. Dengannya Allah telah menasakh (menghapus) semua kitab sebelumnya. Dan Allah telah menjamin untuk memelihara dan menjaganya; karena ia akan tetap menjadi hujjah atas semua makhluk, sampai hari kiamat.
4- Beriman kepada para rasul:
Allah telah mengutus para rasul kepada makhluk-Nya. Rasul pertama adalah Nuh dan yang terakhir adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan semua rasul itu adalah manusia biasa, tidak memiliki sedikitpun sifat-sifat ketuhanan. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang telah dimuliakan dengan kerasulan. Dan Allah telah mengakhiri semua syari’at dengan syari’at Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau diutus untuk seluruh manusia. Maka tidak ada lagi nabi sesudahnya.
5- Beriman kepada hari akhirat:
Yaitu hari kiamat, tidak ada hari lagi setelahnya, Ketika Allah membangkitkan manusia dalam keadaan hidup untuk kekal di tempat yang penuh kenikmatan atau di tempat siksaan yang amat pedih.
Beriman kepada Hari Akhir meliputi beriman kepada semua yang akan terjadi setelah mati, yaitu: ujian kubur, kenikmatan dan siksaannya, serta apa yang akan terjadi setelah itu, seperti kebangkitan dan hisab, kemudian surga atau neraka.
6- Beriman kepada Takdir:
Takdir artinya: beriman bahwasanya Allah telah mentaqdirkan semua yang ada dan menciptakan seluruh makhluk sesuai dengan ilmu-Nya yang terdahulu, dan menurut kebijaksanaan-Nya. Maka segala sesuatu telah diketahui oleh Allah, serta telah pula tertulis disisi-Nya, dan Dialah yang telah menghendaki dan menciptakannya.


Kedua
Rukun-rukun (Pilar-Pilar) Islam


Islam dibangun di atas lima rukun. Seseorang tidak akan menjadi muslim yang sebenarnya hingga dia mengimani dan melaksanakannya, yaitu:
Rukun pertama: Syahadat (bersaksi) bahwa, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan bahwasanya Muhammad itu adalah Rasulullah. Syahadat ini merupakan kunci Islam dan pondasi bangunannya.
Makna syahadat la ilaha illallah ialah: tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah saja, Dialah ilah yang hak, sedangkan ilah selainnya adalah batil. Dan ilah itu artinya: sesuatu yang disembah.
Dan makna syahadat: bahwasanya Muhammad itu adalah rasulullah ialah: membenarkan semua apa yang diberitakannya, dan menta’ati semua perintahnya serta menjauhi semua yang dilarang dan dicegahnya.
Rukun kedua: Shalat:
Yaitu lima shalat setiap hari, Allah syari’atkan sebagai hubungan antara seorang muslim dengan Tuhannya. Di dalamnya dia bermunajat dan berdo’a kepada-Nya, di samping agar menjadi pencegah bagi muslim dari perbuatan keji dan munkar.
Dan Allah telah menyiapkan bagi yang menunaikannya kebaikan dalam agama dan kemantapan iman serta ganjaran, baik cepat maupun lambat. Maka dengan demikian seorang hamba akan mendapatkan ketenangan jiwa dan kenyamanan raga yang akan membuatnya bahagia di dunia dan akhirat.
Rukun ketiga: Zakat
Yaitu: sedekah yang dibayar oleh orang yang memiliki harta sampai nisab (kadar tertentu) setiap tahun, kepada yang berhak menerimanya seperti orang-orang fakir dan lainnya, di antara yang berhak menerima zakat.
Dan zakat itu tidak diwajibkan atas orang fakir yang tidak memiliki nisab, tapi hanya diwajibkan atas orang-orang kaya untuk menyempurnakan agama dan islam mereka, meningkatkan kondisi dan akhlak mereka, menolak segala bala dari mereka dan harta mereka, mensucikan mereka dari dosa, di samping sebagai bantuan bagi orang-orang yang membutuhkan dan fakir di antara mereka, serta untuk memenuhi kebutuhan keseharian mereka, sementara zakat hanyalah merupakan bagian kecil sekali dari jumlah harta dan rizki yang diberikan Allah kepada mereka.


Rukun keempat: Puasa
Yaitu selama satu bulan saja setiap tahun, pada bulan Ramadhan yang mulia, yakni bulan kesembilan dari bulan-bulan Hijriah. Kaum muslimin secara keseluruhan serempak meninggalkan kebutuhan-kebutuhan pokok mereka; makan, minum dan jima’, di siang hari; mulai dari terbit fajar sampai matahari terbenam.
Dan semua itu akan diganti oleh Allah bagi mereka -berkat karunia dan kemurahannya- dengan penyempurnaan agama dan iman mereka, serta peningkatan kesempurnaan diri, dan banyak lagi ganjaran dan kebaikan lainnya; baik, di dunia maupun di akhirat yang telah dijanjikan Allah bagi orang-orang yang berpuasa.
Rukun kelima: Haji
Yaitu menuju Masjidil haram untuk melakukan ibadah tertentu. Allah mewajibkannya atas orang yang mampu sekali seumur hidup. Pada waktu itu kaum muslimin dari segala penjuru berkumpul di tempat yang paling mulia di muka bumi ini, menyembah Tuhan Yang Satu, memakai pakaian yang sama, tidak ada perbedaan antara pemimpin dan yang dipimpin, antara si kaya dan si fakir dan antara yang berkulit putih dan berkulit hitam. Mereka semua melaksanakan bentuk-bentuk ibadah tertentu, yang terpenting di antaranya adalah: Wukuf di padang Arafah, thawaf di Ka’bah yang mulia, kiblatnya kaum muslimin, dan sa’i antara bukit Shafa dan Marwah.
Dan di dalam pelaksanan haji itu terdapat manfaat-manfaat yang tidak terhingga banyaknya, baik dari segi agama maupun dunia.


Ketiga
Selanjutnya, Islam juga telah mengatur kehidupan pemeluknya secara individu dan kelompok, dengan konsep yang menjamin kebahagiaan hidup mereka dunia dan akhirat. Islam membolehkan bahkan mendorong mereka untuk nikah, dan sebaliknya mengharamkan atau melarang perbuatan zina, sodomi dan segala bentuk prilaku kotor lainnya. Ia mewajibkan menjalin hubungan antar kerabat, mengasihi orang-orang fakir dan miskin serta menyantuni mereka, sebagaimana Islam juga mewajibkan dan mendorong untuk berakhlak mulia, serta mengharamkan dan melarang segala bentuk moral yang hina.
Islam membolehkan bagi mereka usaha yang baik melalui perdagangan, persewaan dan semacamnya, serta mengharamkan praktek riba, segala bentuk perdagangan yang terlarang dan semua yang mengandung unsur penipuan atau pengelabuan.
Sebagaimana Islam juga memperhatikan perbedaan manusia dalam konsisten terhadap ajarannya dan memelihara hak-hak orang lain, untuk itu ditetapkan sanksi-sanksi yang mencegah untuk terjadinya berbagai pelanggaran terhadap hak-hak Allah seperti: murtad, berzina, meminum khamar dan semacamnya, begitu juga ditetapkan sanksi-sanksi yang mencegah akan terjadinya pelanggaran terhadap hak-hak sesama manusia, seperti membunuh, mencuri, menuduh orang lain berbuat zina, atau menganiaya dengan memukul atau menyakiti. Sanksi-sanksi tersebut sangat sesuai dengan bentuk kejahatannya tanpa berlebih-lebihan.
Sebagaimana Islam juga telah mengatur dan memberi batasan terhadap hubungan antara rakyat dan penguasa, dengan mewajibkan rakyat untuk ta’at selama bukan dalam maksiat kepada Allah, dan mengharamkan kepada mereka memberontak atau menentang, karena bisa menimbulkan kerusakan-kerusakan secara umum atau khusus.
Sebagai penutup, dapat kita katakan bahwa Islam telah merangkum ajaran yang membangun dan menciptakan hubungan yang benar dan amalan yang tepat antara hamba dan Tuhannya dan antara seseorang dengan masyarakatnya dalam segala urusan. Maka tak satupun kebaikan, baik itu dari segi akhlak maupun mu’amalat, melainkan Islam telah membimbing dan mendorong ummat untuk melaksanakannya, dan sebaliknya tak satupun keburukan dalam hal akhlak ataupun mu’amalat melainkan Islam telah mencegah dan melarang ummat untuk melakukannya. Ini semua membuktikan kesempurnaan dan keindahan agama ini, dalam seluruh sisi dan bagiannya.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

I S L A M

MENGENAL ISLAM
تعريف موجز بالإسلام
 
Introduction to Islam in Indonisian Language
Disusun Oleh:
Penerbit Darul Qosim
Penerjemah :
Divisi Indonesia
Murajaah :
Zulfi Askar
 
 
 
 
 
 
Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah

1428 – 2007
 
Mengenal Islam 2
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga shalawat
dan salam tercurah untuk imam para rasul, nabi kita Muhammad,
beserta keluarga dan para shahabatnya .
Islam adalah syari’at Allah terakhir yang diturunkan-Nya
kepada penutup para nabi dan rasul-Nya, Muhammad bin
Abdullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia merupakan satu-satunya
agama yang benar. Allah tidak menerima agama dari siapapun
selainnya. Dia telah menjadikannya sebagai agama yang mudah,
tidak ada kesulitan dan kesusahan di dalamnya. Allah tidak
mewajibkan dan tidak pula membebankan kepada para
pemeluknya apa-apa yang mereka tidak sanggup melakukannya.
Islam adalah agama yang dasarnya tauhid, syi’arnya kejujuran,
porosnya keadilan, tiangnya kebenaran, ruhnya kasih sayang. Ia
merupakan agama agung yang mengarahkan manusia kepada
seluruh hal yang bermanfa’at, serta melarang dari segala hal yang
membahayakan bagi agama dan kehidupan mereka di dunia.
Dengannya Allah meluruskan ’aqidah dan akhlak, serta
memperbaiki kehidupan dunia dan akhirat. Dengannya pula Allah
menyatukan hati yang bercerai-berai, dan hawa nafsu yang
berpecah-belah, dengan membebaskannya dari kegelapan
kebatilan, dan mengarahkan serta menunjukinya kepada
kebenaran dan jalan yang lurus. Islam adalah agama yang lurus,
yang sangat bijaksana dan sempurna dalam segala berita dan
hukum-hukumnya. Ia tidak memberitakan kecuali dengan jujur
dan benar, dan tidak menghukum kecuali dengan yang baik dan
adil, yaitu: ’aqidah yang benar, amalan yang tepat, akhlak yang
utama dan etika yang mulia.
Syari’ah Islam bertujuan untuk mewujudkan hal-hal berikut:
1. Memperkenalkan manusia dengan Tuhan dan Pencipta
mereka, melalui nama-nama-Nya yang mulia dan sifat-sifat-
Nya yang agung, serta perbuatan-perbuatan-Nya yang
sempurna.
2. Menyeru manusia untuk beribadah hanya kepada Allah,
tidak ada sekutu bagi-Nya; dengan menjalankan semua
perintah dan menjauhi semua larangan-Nya, yang
merupakan kemaslahatan bagi mereka di dunia dan akhirat.
3. Mengingatkan mereka akan keadaan dan tempat kembali
mereka setelah mati, dan apa yang akan mereka hadapi di
dalam kubur, serta ketika dibangkitkan dan dihisab.
Kemudian tempat kembali mereka surga atau neraka.
Dan hal-hal yang diseru oleh Islam dapat kita simpulkan dalam
penjelasan berikut:
Mengenal Islam 3
Pertama
Aqidah
Yaitu: Meyakini Rukun-Rukun (Pilar-Pilar) Iman yang enam:
1- Beriman kepada Allah, diwujudkan dengan hal-hal berikut:
a. Satu: Beriman kepada rububiyyah Allah Ta’ala,
maksudnya: Allah adalah Tuhan, Pencipta, Pemilik dan
Pengatur segala urusan.
b. Beriman kepada uluhiyyah Allah Ta’ala, maksudnya:
Allah Ta’ala sajalah Tuhan yang berhak disembah, dan
semua sesembahan selain-Nya adalah batil.
c. Beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat-Nya,
maksudnya: bahwasanya Allah Ta’ala memiliki namanama
yang mulia, dan sifat-sifat yang sempurna serta
agung sesuai dengan yang ada dalam Al-Qur’an dan
Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam .
2- Beriman kepada para Malaikat:
Malaikat adalah hamba-hamba yang mulia. Mereka diciptakan
oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya, serta tunduk dan patuh
menta’ati-Nya. Allah telah membebankan kepada mereka berbagai
tugas. Diantara mereka adalah Jibril; ditugaskan menurunkan
wahyu dari sisi Allah kepada nabi-nabi dan rasul-rasul yang
dikehendaki-Nya.
Mikail yang ditugaskan untuk mengurus hujan dan tumbuhtumbuhan.
Israfil yang bertugas meniupkan sangsakala di hari terjadinya
kiamat.
Dan Malaikat Maut, bertugas mencabut nyawa ketika ajal tiba.
3- Beriman kepada Kitab-kitab:
Allah -Yang Maha Agung dan Mulia- telah menurunkan kepada
para rasul-Nya kitab-kitab, mengandung petunjuk dan kebaikan.
Yang kita ketahui di antara kitab-kitab itu adalah:
a. Taurat, diturunkan Allah kepada Nabi Musa alaihis salam,
ia merupakan kitab Bani Israil yang paling agung.
b. Injil, diturunkan Allah kepada Nabi Isa alaihis salam.
c. Zabur, diturunkan Allah kepada Daud alaihis salam.
d. Shuhuf Nabi Ibrahim dan Nabi Musa ’alaihimas salam.
e. Al Qur’an yang agung, diturunkan Allah Ta’ala kepada nabi-
Nya Muhammad, penutup para nabi. Dengannya Allah telah
Mengenal Islam 4
menasakh (menghapus) semua kitab sebelumnya. Dan Allah
telah menjamin untuk memelihara dan menjaganya; karena
ia akan tetap menjadi hujjah atas semua makhluk, sampai
hari kiamat.
4- Beriman kepada para rasul:
Allah telah mengutus para rasul kepada makhluk-Nya. Rasul
pertama adalah Nuh dan yang terakhir adalah Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan semua rasul itu adalah manusia
biasa, tidak memiliki sedikitpun sifat-sifat ketuhanan. Mereka
adalah hamba-hamba Allah yang telah dimuliakan dengan
kerasulan. Dan Allah telah mengakhiri semua syari’at dengan
syari’at Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau diutus
untuk seluruh manusia. Maka tidak ada lagi nabi sesudahnya.
5- Beriman kepada hari akhirat:
Yaitu hari kiamat, tidak ada hari lagi setelahnya, Ketika Allah
membangkitkan manusia dalam keadaan hidup untuk kekal di
tempat yang penuh kenikmatan atau di tempat siksaan yang amat
pedih.
Beriman kepada Hari Akhir meliputi beriman kepada semua
yang akan terjadi setelah mati, yaitu: ujian kubur, kenikmatan
dan siksaannya, serta apa yang akan terjadi setelah itu, seperti
kebangkitan dan hisab, kemudian surga atau neraka.
6- Beriman kepada Takdir:
Takdir artinya: beriman bahwasanya Allah telah mentaqdirkan
semua yang ada dan menciptakan seluruh makhluk sesuai dengan
ilmu-Nya yang terdahulu, dan menurut kebijaksanaan-Nya. Maka
segala sesuatu telah diketahui oleh Allah, serta telah pula tertulis
disisi-Nya, dan Dialah yang telah menghendaki dan
menciptakannya.
Mengenal Islam 5
Kedua
Rukun-rukun (Pilar-Pilar) Islam
Islam dibangun di atas lima rukun. Seseorang tidak akan
menjadi muslim yang sebenarnya hingga dia mengimani dan
melaksanakannya, yaitu:
Rukun pertama: Syahadat (bersaksi) bahwa, tiada Tuhan yang
berhak disembah kecuali Allah, dan bahwasanya Muhammad itu
adalah Rasulullah. Syahadat ini merupakan kunci Islam dan
pondasi bangunannya.
Makna syahadat la ilaha illallah ialah: tidak ada yang berhak
disembah kecuali Allah saja, Dialah ilah yang hak, sedangkan ilah
selainnya adalah batil. Dan ilah itu artinya: sesuatu yang
disembah.
Dan makna syahadat: bahwasanya Muhammad itu adalah
rasulullah ialah: membenarkan semua apa yang diberitakannya,
dan menta’ati semua perintahnya serta menjauhi semua yang
dilarang dan dicegahnya.
Rukun kedua: Shalat:
Yaitu lima shalat setiap hari, Allah syari’atkan sebagai
hubungan antara seorang muslim dengan Tuhannya. Di dalamnya
dia bermunajat dan berdo’a kepada-Nya, di samping agar menjadi
pencegah bagi muslim dari perbuatan keji dan munkar.
Dan Allah telah menyiapkan bagi yang menunaikannya
kebaikan dalam agama dan kemantapan iman serta ganjaran, baik
cepat maupun lambat. Maka dengan demikian seorang hamba
akan mendapatkan ketenangan jiwa dan kenyamanan raga yang
akan membuatnya bahagia di dunia dan akhirat.
Rukun ketiga: Zakat
Yaitu: sedekah yang dibayar oleh orang yang memiliki harta
sampai nisab (kadar tertentu) setiap tahun, kepada yang berhak
menerimanya seperti orang-orang fakir dan lainnya, di antara yang
berhak menerima zakat.
Dan zakat itu tidak diwajibkan atas orang fakir yang tidak
memiliki nisab, tapi hanya diwajibkan atas orang-orang kaya
untuk menyempurnakan agama dan islam mereka, meningkatkan
kondisi dan akhlak mereka, menolak segala bala dari mereka dan
harta mereka, mensucikan mereka dari dosa, di samping sebagai
bantuan bagi orang-orang yang membutuhkan dan fakir di antara
mereka, serta untuk memenuhi kebutuhan keseharian mereka,
sementara zakat hanyalah merupakan bagian kecil sekali dari
jumlah harta dan rizki yang diberikan Allah kepada mereka.
Mengenal Islam 6
Rukun keempat: Puasa
Yaitu selama satu bulan saja setiap tahun, pada bulan
Ramadhan yang mulia, yakni bulan kesembilan dari bulan-bulan
Hijriah. Kaum muslimin secara keseluruhan serempak
meninggalkan kebutuhan-kebutuhan pokok mereka; makan,
minum dan jima’, di siang hari; mulai dari terbit fajar sampai
matahari terbenam.
Dan semua itu akan diganti oleh Allah bagi mereka -berkat
karunia dan kemurahannya- dengan penyempurnaan agama dan
iman mereka, serta peningkatan kesempurnaan diri, dan banyak
lagi ganjaran dan kebaikan lainnya; baik, di dunia maupun di
akhirat yang telah dijanjikan Allah bagi orang-orang yang
berpuasa.
Rukun kelima: Haji
Yaitu menuju Masjidil haram untuk melakukan ibadah
tertentu. Allah mewajibkannya atas orang yang mampu sekali
seumur hidup. Pada waktu itu kaum muslimin dari segala penjuru
berkumpul di tempat yang paling mulia di muka bumi ini,
menyembah Tuhan Yang Satu, memakai pakaian yang sama, tidak
ada perbedaan antara pemimpin dan yang dipimpin, antara si
kaya dan si fakir dan antara yang berkulit putih dan berkulit
hitam. Mereka semua melaksanakan bentuk-bentuk ibadah
tertentu, yang terpenting di antaranya adalah: Wukuf di padang
Arafah, thawaf di Ka’bah yang mulia, kiblatnya kaum muslimin,
dan sa’i antara bukit Shafa dan Marwah.
Dan di dalam pelaksanan haji itu terdapat manfaat-manfaat
yang tidak terhingga banyaknya, baik dari segi agama maupun
dunia.
Mengenal Islam 7
Ketiga
Selanjutnya, Islam juga telah mengatur kehidupan pemeluknya
secara individu dan kelompok, dengan konsep yang menjamin
kebahagiaan hidup mereka dunia dan akhirat. Islam
membolehkan bahkan mendorong mereka untuk nikah, dan
sebaliknya mengharamkan atau melarang perbuatan zina, sodomi
dan segala bentuk prilaku kotor lainnya. Ia mewajibkan menjalin
hubungan antar kerabat, mengasihi orang-orang fakir dan miskin
serta menyantuni mereka, sebagaimana Islam juga mewajibkan
dan mendorong untuk berakhlak mulia, serta mengharamkan dan
melarang segala bentuk moral yang hina.
Islam membolehkan bagi mereka usaha yang baik melalui
perdagangan, persewaan dan semacamnya, serta mengharamkan
praktek riba, segala bentuk perdagangan yang terlarang dan
semua yang mengandung unsur penipuan atau pengelabuan.
Sebagaimana Islam juga memperhatikan perbedaan manusia
dalam konsisten terhadap ajarannya dan memelihara hak-hak
orang lain, untuk itu ditetapkan sanksi-sanksi yang mencegah
untuk terjadinya berbagai pelanggaran terhadap hak-hak Allah
seperti: murtad, berzina, meminum khamar dan semacamnya,
begitu juga ditetapkan sanksi-sanksi yang mencegah akan
terjadinya pelanggaran terhadap hak-hak sesama manusia, seperti
membunuh, mencuri, menuduh orang lain berbuat zina, atau
menganiaya dengan memukul atau menyakiti. Sanksi-sanksi
tersebut sangat sesuai dengan bentuk kejahatannya tanpa
berlebih-lebihan.
Sebagaimana Islam juga telah mengatur dan memberi batasan
terhadap hubungan antara rakyat dan penguasa, dengan
mewajibkan rakyat untuk ta’at selama bukan dalam maksiat
kepada Allah, dan mengharamkan kepada mereka memberontak
atau menentang, karena bisa menimbulkan kerusakan-kerusakan
secara umum atau khusus.
Sebagai penutup, dapat kita katakan bahwa Islam telah
merangkum ajaran yang membangun dan menciptakan hubungan
yang benar dan amalan yang tepat antara hamba dan Tuhannya
dan antara seseorang dengan masyarakatnya dalam segala
urusan. Maka tak satupun kebaikan, baik itu dari segi akhlak
maupun mu’amalat, melainkan Islam telah membimbing dan
mendorong ummat untuk melaksanakannya, dan sebaliknya tak
satupun keburukan dalam hal akhlak ataupun mu’amalat
melainkan Islam telah mencegah dan melarang ummat untuk
melakukannya. Ini semua membuktikan kesempurnaan dan
keindahan agama ini, dalam seluruh sisi dan bagiannya.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.